Senin, 18 Agustus 2025

HUKUM KETIDAKLAYAKAN



Dalam suatu kesempatan berdiskusi, Keledai berkata pada harimau: "Rumput itu biru".
Harimau menjawab: "Tidak, rumput itu hijau".
Diskusi menjadi memanas, dan akhirnya keduanya memutuskan untuk membawa masalah ini ke  mahkamah pengadilan raja Singa.
Memasuki ruang pengadilan, masih belasan langkah sebelum mencapai tahta peradilan singa, keledai itu sudah berteriak:
"Yang Mulia, apakah benar bahwa rumput itu biru? ".
"Benar, rumput itu biru?" Jawab Singa.
Keledai itu bergegas maju dan melanjutkan:
"Harimau tidak setuju denganku. Dia menentang dan menggangguku, maka hukumlah dia". 
Raja Singa lalu memutuskan: "Harimau akan dihukum diam selama 5 tahun ".
Keledai melompat kegirangan dan penuh kepuasan. Dia berlalu sambil terus mengulang-ulang, "Rumput biru..., Rumput biru...."
Adapun Harimau, ia menerima hukuman dan tidak mengajukan banding atas keputusan raja. Ia hanya mengajukan pertanyaan, "Yang Mulia, mengapa engkau menghukumku, sedang Yang Mulia  tahu kalau rumput itu hijau?"
Singa menjawab:
"Iya, ternyata rumput itu memang hijau".
Harimau penasaran dan mendesak bertanya: "Lalu mengapa Yang Mulia menghukumku?"
Singa menjawab:
"Itu tidak ada kaitannya dengan pertanyaan apakah rumput itu biru atau hijau. Vonis yang kuputuskan adalah karena tidak mungkin bagi makhluk yang berani dan cerdas sepertimu untuk membuang-buang waktu berdebat dengan keledai dan yang karena itu kau datang dan menggangguku...!!!!

Pemborosan waktu terburuk adalah berdebat dengan orang bodoh dan fanatik yang tidak peduli dengan kebenaran atau kenyataan. Ia hanya peduli kemenangan keyakinan dan ilusi mereka.
Jangan buang waktu untuk diskusi yang tidak masuk akal. Ada orang yang untuk semua bukti yang disampaikan kepada mereka, mereka samasekali tidak memiliki kemampuan untuk memahami. Yang lainnya, ada yang dibutakan oleh ego, kebencian dan dendam, dan satu-satunya hal yang mereka inginkan adalah menjadi benar meskipun mereka tidak benar. Ketika ketidaktahuan berteriak, kecerdasan akan tertutup. Atas semua kenyataan itu, kamu harus tahu bahwa kedamaian dan ketenanganmu lebih berharga.

ASMA ADZAM



Seorang pria pembuat dadih (semacam yogurt) datang kepada Syeikh Bahai dan mengeluhkan pekerjaannya yang gulung tikar. Pria itu meminta diajarkan ilmu Asma' A'dzam agar keadaannya membaik.

Alih alih mengajarkan ilmu Asma' A'dzam, Syeikh Bahai malah anjurkan pria itu bekerja dengan berjualan bubur. 
Pria itu mengikuti saran Syeikh. Ia kemudian berjualan bubur.
Lama-lama dagangannya semakin laris. Usahanya berkembang dan akhirnya mengambil karyawan. Selang beberapa bulan kemudian, karyawannya keluar dan membuka warung bubur sendiri di pangkal jalan. Akibatnya warung si pria itu pun lama-kelamaan semakin sepi.

Akhirnya pria itu datang lagi kepada Syeikh Bahai. Ia mengeluh dan kembali meminta diajarkan Asma' A'dzam. Syeikh menjawab, "Rahasia membuat bubur saja tidak mampu kau jaga. Bagaimana kamu akan menjaga rahasia agung wirid Asma' A'dzam ? 
Urusi saja dadihmu dan jangan berpikir yang macam-macam".