Selasa, 12 Mei 2015

KISAHKU

Dari rekahan fajar aku terlahir kemudian kususuri jalan kerikil tajam sejak pagi hingga senja.
Tapi lihatlah ... , pada bunga melati yang tumbuh di atas kotoran hewan , aku tulis kisahku dengan pena batang tebu.

Minggu, 10 Mei 2015

KUMIS

Tradisi Islam sering diidentikkan dengan pemeliharaan janggut sekaligus mencukur kumis bagi kaum pria.
Tetapi aku adalah seorang pria muslim yang memelihara janggut dengan cara selalu mencukurnya setiap kali tumbuh.
Sebaliknya, aku membiarkan kumis tumbuh dengan selalu memotongnya sebatas pinggiran bibir atas dan ujungnya kiri kanan kubiarkan pas membingkai sudut bibir.
Itu adalah sebuah wujud kemandirian pribadi dalam menerjemahkan tradisi agama yang kupilih.
Tujuan saya adalah, bahwa dengan membiarkan kumis tumbuh dengan model seperti itu, aku tengah mengingatkan diriku sendiri untuk bisa menapis setiap ucapan yang keluar dari bibir dan lebih baik diam sampai benar-benar yakin bahwa dengan bicara, kita terbukti memberikan manfaat pada orang lain dan juga diri sendiri.

Sabtu, 09 Mei 2015

JANGGUT DAN BULU DAGU

                   JANGGUT DAN BULU DAGU

Dua orang pengembara bertemu di sebuah persimpangan jalan dan mereka langsung berpelukan walaupun mereka belum pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya. Mereka yakin bahwa mereka bersaudara karena keduanya sama-sama berjanggut, meskipun model janggut keduanya berbeda.

Pria yang tadi datang dari arah timur memiliki janggut panjang menjela-jela hingga dada, tetapi tumbuh ranggas dan jarang. Bahkan dengan mata telanjang jumlah helaiannya bisa dihitung jari. Di atas bibirnya kelihatan bekas cukuran kumis yang berwarna keabu-abuan.

Adapun pria yang tadi datang dari arah barat, memiliki janggut yang agak pendek tetapi lebat dan berwarna hitam mengkilap. Di atas bibirnya bertengger kumis klimis yang ditata rapi menyusuri tepian bibir atas dan ujung-ujungnya dipotong tepat pada sudut bibir laksana penadah kata agar setiap ucapan dari bibir tidak gampang tercecer dan terumbar sia-sia.

Minggu, 03 Mei 2015

BENIH

Hujan tercurah dari langit menyucikan bumi dan menyuling benih dari dataran yang diberkahi. Demikianlah lirikan seorang kekasih menjadi benih yang ditaburkan cinta pada dataran hati

Kamis, 30 April 2015

ANCAMAN

Mereka yang jiwanya tertuntun cahaya kebenaran tidak memandang ancaman dan penderitaan dunia sebagai hal yang layak ditakuti, melainkan sebagai sampah yang harus disingkirkan dari jalan kesucian.
Hanya mereka yang gagal memahami hakekat kehidupan yang takut menghadapi ancaman kematian.
Dan mereka yang mendapatkan anugrah pengetahuan tentang kematian memungkinkan mereka berdamai dan bekerja sama dengan pengetahuan itu.

PINANGAN

" Kupinang dia di singgasana purnama ,
agar tumpah cahyanya di gelap malam jiwaku "

Kamis, 23 April 2015

MENUNGGU BAHTERA NUH

           MENUNGGU BAHTERA NUH

Jauh di dalam hutan dan terlindung di balik kerapatan pepohonan raksasa terdapat gugusan batu cadas yang menyerupai bentuk sadel sepeda yang menghadap ke arah lautan lepas. Pada bagian lamping batu cadas senantiasa terdengar suara gemuruh bagai murka alam ketika ombak datang menampar. Pohon-pohon raksasa yang nampak angker menjulurkan dahan - dahan merangkai tudung berumbai akar-akar gantung menaungi gugusan batu cadas ini dari teriknya matahari.

Ke tempat inilah aku senantiasa datang menyendiri sambil merenungi kekuasaan Sang Mahagaib yang mengatur dan menguasai seluruh semesta dengan ke-Mahahalusan Jari-jemari-Nya. Dia telah menetapkan hukum demi kelangsungan hidup mahluk-Nya dan tidak mengizinkan siapapun untuk campur tangan membuat atau menetapkan hukum. Tidak seorangpun diberi hak menjadi penguasa karena hanya Dia-lah Penguasa seluruh semesta. Juga tidak direlakan-Nya seorangpun dari hamba-Nya diperbudak oleh orang lain karena hanya kepada Dia-lah setiap mahluk harus mengabdi.

Tidak seorangpun dari keluarga ataupun teman-teman dekat yang mengetahui kalau selama ini aku sering pergi menyendiri sampai suatu hari secara tidak sengaja aku berpapasan dengan seorang sahabat yang langsung menerorku dengan pertanyaan, 
" Ke mana saja selama ini ? Apakah engkau sudah bosan menumpang di tempat kostku karena seringnya kita kelaparan di sana sehingga engkau pergi meninggalkanku ? " 
" Sabar, kita cari dulu tempat duduk baru kujelaskan, okey ?"
Aku tidak ingin berdebat lebih lama, maka segera kuraih lengan sahabatku itu dan kuajak duduk di pojok sebuah kios. Sebelum dia ber ba bi bu, aku segera mulai bicara :
" Sahabatku, aku tak pernah bosan menanggung rasa lapar bersamamu. Aku hanya jenuh karena gedung-gedung pertemuan, tempat-tempat ibadah, apalagi kantor-kantor telah dijadikan iblis sebagai ruang-ruang dansa. Kebetulan aku menemukan suatu tempat dimana aku bisa mengisi telingaku dengan nyanyian gelombang , karena lidah-lidah fasih telah menjelma sebagai nyanyian setan. Tempat itu hanya berupa gugusan batu cadas, tetapi itu lebih baik dibanding kursi-kursi jabatan yang telah menjadi tahta para iblis. Tudung dedaunan pohon-pohon raksasa dengan rumbai akar-akar gantung di tempat itu terasa lebih hangat ketimbang pakaian-pakaian seragam, jubah ataupun surban yang dikenakan para hantu. Di sana aku mendapatkan ketenangan dengan bertafakkur dan berdo'a sambil menunggu datangnya bahtera Nabi Nuh "

Sahabatku tertawa terbahak-bahak mendengar penuturanku. Dengan mimik serius yang dibuat-buat, ia berkomentar seakan-akan tidak ditujukan kepadaku. " Gila, orang yang selama ini paling heboh dalam perdebatan-perdebatan ilmiyah dan selalu bernafsu melawan tradisi ketamakan dan kesombongan kaum ningrat birokratis tiba-tiba memilih jalan para pertapa. Dan yang lebih gila, dia pergi menyepi bukannya untuk bersemedi tetapi malah pergi menyepi untuk menunggu datangnya bahtera Nabi Nuh. Pasti ada yang tidak beres dengan urat syarafnya "

Aku berusaha untuk tidak tersinggung mendengar kata-kata sahabatku yang sebetulnya agak keterlaluan. Pertama karena dia memang sahabatku, dan yang kedua karena aku yakin dia belum memahami maksudku. Karena itu aku melanjutkan : 
" Sahabatku, ingatlah masa ketika Nabi Nuh membuat bahtera di atas gunung. Ketika itu orang-orang yang merasa pintar menertawakan dan menganggap Nabi Nuh orang gila karena melakukan suatu perbuatan yang sangat tidak logis. Nabi Nuh tidak terusik dan tidak peduli dengan sikap dan anggapan orang-orang terhadapnya karena apa yang dilakukannya sesuai kehendak dan petunjuk Tuhan yang tidak mungkin salah meski kadang tidak masuk akal. Alhasil setelah itu Nabi Nuh beserta orang-orang yang percaya dan menghargai " Kegilaannya " mendapatkan keselamatan ____ sebaliknya orang-orang "pintar" binasa ____ tenggelam dalam lautan kesombongannya ".

Aku percaya bahwa evolusi selalu ada pada setiap rentang kehidupan di dunia dan aku yakin bahwa sebuah bangsa yang bahkan ketika bangsa tersebut mencapai puncak kecerdasan sekalipun lalu mencoba membawa bangsanya mengarungi samudera kehidupan tanpa menggunakan bahtera sebagaimana telah digunakan oleh Nabi Nuh beserta para pengikutnya, maka cepat atau lambat pasti akan diporak-porandakan oleh gelombang waktu. Bangsa manapun yang mencoba merancang bahtera kehidupan di luar bentuk rancangan Sang Mahateliti, maka bahtera itu bersama seluruh penumpangnya suatu saat akan karam dan terdampar sebagai bangkai sejarah.

Aku menatap wajah sahabatku dan kutemukan keyakinan dari sinar matanya bahwa dia telah memahami maksudku. Wajahnya menyiratkan kesungguhan  dan ia segera menimpali , " Maafkanlah sikap dan kata-kataku tadi. Sekarang aku sudah mengerti. Aku juga sering berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan hukum-hukum-Nya sekiranya ada acuan hidup lain yang bisa dibuat manusia pada tingkat kecerdasan tertentu untuk bisa membawa seluruh elemen kehidupan ke arah yang benar. Dengan demikian memang sangat tidak pantas kalau ada seseorang atau sekelompok orang yang berusaha merancang bahtera kehidupan untuk melayari samudera kehidupan yang tidak bertepi hanya pada garis khayal dan pikiran manusia. Yang harus kita lakukan adalah berlayar dengan bahtera yang telah diciptakan bersamaan dengan penciptaan samudera sesuai peta pelayaran yang dikehendaki-Nya.

Aku tersenyum dan kutepuk bahu sahabatku berkali-kali. Kami kemudian sepakat pulang ke tempat kostnya.