Selasa, 26 Juli 2016

JATUH

Apakah anda jatuh sendiri atau dijatuhkan, faktanya tetap sama, yakni "Jatuh."
Ketika anda jatuh, maka itu bukanlah saat untuk mencari kambing hitam, melainkan saat untuk berpikir dan berusaha bagaimana cara bangkit. Karena satu-satunya alasan kenapa anda jatuh, adalah karena anda harus bangkit.
Mereka yang sibuk mencari kambing hitam ketika sedang terjatuh, mereka tidak akan mendapatkan apapun selain menambah beban dan rasa sakit akan kejatuhannya.

Kamis, 21 Juli 2016

PEMBENTUKAN ENERGI

Setiap pengalaman, positip ataupun negatif mengukir memori dalam jaringan sel sebagaimana medan energi.
Tiap organ dan sistem dalam tubuh dikalibrasikan untuk menyerap dan memproses energi emosional dan psikologis. Tiap wilayah tubuh mentransmisikan energi pada frekuensi khusus dan mendetail.
Energi tidak bisa dan tidak akan pernah berbohong. Jika kita berbohong, medan energi kita mengomunikasikan fakta energi ke orang yang kita bohongi.

Minggu, 08 Mei 2016

SHALAT LIMA WAKTU

Bila Subuh Utuh
Pagi tumbuh, hati teduh
Pribadi tidak angkuh
Keluarga tidak keruh
maka damai akan berlabuh

Bila Dzuhur teratur
Diri pribadi jujur
Hati tidak kufur
Rasa selalu bersyukur
Amal tidak udzur
Keluarga selalu akur
Maka pribadipun menjadi makmur

Bila Ashar kelar
Jiwa jadi sabar
Raga jadi tegar
Senyum menyebar
dan rizki-pun lancar

Bila Maghrib tertib
Ngaji jadi wajib
Wirid jadi karib
Jauh dari aib
Insya Allah syafaat tidak raib

Bila Isya’ terjaga
Malam bercahaya
Rumah bagai istana
Hidup terasa di Surga
Bahagia dan Sejahtera

Rabu, 06 April 2016

Jumat, 25 Maret 2016

DUA BUDAKKU ADALAH TUANMU

Suatu waktu seorang raja berparade keliling wilayah kerajaannya dengan dikawal balatentaranya. Seluruh warga kerajaan berdatangan menonton dan memberi hormat kepada sang raja, kecuali seorang tua sederhana yang berdiri agak jauh dari kerumunan orang dan tampak tidak tertarik dengan parade itu.
Pandangan sang raja tertuju pada orang tua itu dan segera menghentikan paradenya dan memerintahkan pengawalnya memanggil orang tua itu menghadap padanya. Sang raja menuntut penjelasan kenapa orang tua itu tidak menghormat ketika ia lewat.
Orang tua itu menjawab, "Biarlah mereka semua menghormatimu karena mereka menginginkan apa yang ada padamu berupa harta, kedudukan dan kekuasaan. Puji syukur pada Tuhan semua itu tidak berarti bagiku. Lagipula, apakah aku pantas menghormat padamu sedang dua budakku adalah tuan bagimu ? "
Semua orang ternganga mendengar ucapan orang tua itu dan segera terbayang di benak semua orang kedahsyatan hukuman yang akan ditimpakan sang raja pada orang tua itu. Sang raja dengan mata membelalak dan wajah memerah saga penuh amarah membentak, "Apa maksudmu ? "
Orang tua itu balas menatap sang raja dan dengan tenang ia menjawab,
"Amarah dan ketamakan adalah dua budakku. Dan keduanya adalah tuan bagimu "
Sang raja diam dan menyadari kebenaran ucapan orang tua itu. Diapun balik menghormat pada orang tua tersebut.

Kamis, 24 Maret 2016

KASIH SAYANG

Dikisahkan bahwa suatu hari Dzun Nun al - Misri ra sedang mengadakan perjalanan untuk berhaji. Di tengah perjalanan beliau melihat seekor anjing yang kehausan sampai ia menjilati sebuah batu di gurun. Ketika Dzun Nun menyadari kalau dirinya sendiri telah kehabisan air, ia kemudian berkata kepada semua orang yang ada bersama - sama dalam kafilah itu, " Aku telah pergi berhaji 70 kali. Aku akan serahkan semua pahala dari ketujuh puluh kali perjalanan hajiku itu kepada siapa saja yang memberikan air kepada anjing yang kehausan ini."
Sang wali besar ini bersedia memberikan ganjaran hajinya yang selama 70 kali demi mendapatkan air bagi seekor anjing. Bayangkanlah betapa besar nilainya ketika kita memuaskan dahaga seorang manusia.
Dan bayangkanlah betapa keserakahan telah menjadikan hati kita sebagai batu sehingga jangankan berbagi dari apa yang telah kita miliki, tetapi justru tak pernah berhenti melakukan tipu daya untuk merampas apa2 yang telah dimiliki orang lain.
Kita tekun ibadah dan tak pernah tertinggal mendatangi rumah - rumah ibadah. Kita duduk sama rendah dengan semua orang dalam rumah - rumah peribadatan, tetapi kita mengejar dunia dengan ambisi keserakahan dan menyingkirkan saudara - saudara kita demi memenuhi ambisi pribadi. Kita lupa bahwa sejauh apapun kita mengejar dunia, setelah dalam genggaman ia akan lepas dan meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya lebih dahulu sementara ia masih dalam genggaman...

DUA PERANTARA

Seorang abid mengisahkan bahwa dia beserta keluarganya pernah tidak makan selama tiga hari. Istrinya mengeluh dan berkata, " Anak - anak kita tidak akan bertahan lagi setelah tiga hari tidak makan"
"Sabarlah. Bangun dan ajak anak - anak shalat", demikian ia menanggapi keluhan istrinya.
Sang abidpun keluar menunaikan shalat di masjid. Setelah selesai, dia pulang disambut dengan keluhan istrinya,
" Kita benar-benar lapar sekarang "
Sang abidpun kembali menimpali istrinya,
"Shalat lagi dan ajak anak - anak "
Lalu sang abid sendiri keluar lagi menunaikan shalat.
Ketika sang abid sedang hanyut dalam shalatnya, datanglah seseorang dan berdiri di sampingnya. Setelah sang abid menyelesaikan shalatnya, iapun bertanya pada orang yang baru datang itu,
" Ada apa ? "
Orang itupun bercerita, "Dalam suatu pelayaran, aku bersama teman - teman membicarakan orang - orang shaleh. Saat itu, angin bertiup sangat kencang. Kedahsyatan badai memecahkan perahu kami. Kami dipermainkan ombak ke sana kemari. Dalam keadaan kacau itu, masing - masing dari kami bernazar. Dan aku sendiri bernazar bahwa manakala aku selamat, aku akan memberikan sepertiga dari keuntunganku kepada orang yang dikehendaki oleh Allah. Aku tidak mengenalmu. Tetapi entah kenapa, hati, pikiran dan langkahku diarahkan padamu. Aku tahu kalau engkaulah yang dikehendaki-Nya sebagaimana yg kuminta pada saat bernazar. Kini aku ternyata telah selamat dan mendapat keuntungan 1500 dinar. Kini terimalah 500 dinar bagianmu".
Sang abidpun berkata, " Pergilah ke rumah itu ( abid itu menunjuk rumahnya sendiri ). Apabila keluar seorang perempuan, berikanlah uang itu padanya dan katakan padanya bahwa sementara ia menunggu dengan lemahnya keyakinan, suaminya berusaha di tengah laut mencari rezeki".
Ketika abid itu pulang, istrinya bertanya,
" Apa arti di balik perintahmu kepadaku dan anak - anak untuk menunaikan shalat ? "
" Hal itu tiada lain karena Allah SWT telah berfirman : Perintahkanlah keluargamu menunaikan shalat dan bersabarlah dengan shalat itu "
Demikianlah abid itu mengakhiri kisahnya.