Selasa, 20 September 2016

SASTRA BUGIS ASSIMELLERENG


Siduppaka' nacabbiruu
Iyami napuada
Sappaako laingngE

Kuberpapasan, ia tersenyum
Tiada lain ia katakan
Carilah yang lain

PEkkona' sappaa laingngE
Engkagaro duwanna
AnrEna matakku

Bagaimana mungkin kucari yang lain
Adakah duanya
Yang memikat mataku

PolEna' palElE winru
Tenre' kutuju mata
Padammu silise'

Kutelah mencari kemana-mana
Namun tiada jua kudapatkan
Yang menyamai dirimu

MabEla mu risompeeri
Apa' ri pauwwangnga'
Balala padammu

Namun jauh kau kudatangi
Sebab telah kudiberitahu
Jarang  tandinganmu

Mauwa' sompe' ri Jawa
Sappaa'i senrapammu
Tenre' kulolongeng

Walaupun kumerantau hingga di Jawa
Mencari yang sepadan dirimu
Namun tiada kudapati jua

PolEna' palElE cinna
Sappaa'i sippadammu
Tenre'sa padammu

Kutelah mencoba mengalihkan harapan
Mencari seseorang yang kiranya menyamaimu
Namun tiada jua yang sama denganmu

SEnge' lalowa' ri mula wenni
kubali sEnge' tokko
Ri giling tinroku

Kenanglah daku diawal malam
Agar dikau kukenang pula
Dikala kumenggeliat dalam tidurku

SEnge'ka simata jarung
Kubali sEnge' tokki'
Sipuppureng lino

Kenanglah daku walau sebesar lubang jarum
Agar dikau kukenang pula
Hingga seumur dunia

KEgako lEwuu mangkangngulu
Matto'dang makkalilii'
Uwitao tinro

Dimana gerangan kau berbantal dalam baringmu
Membujur dalam geliatmu
Dikau kulihat dalam tidurku

Mannippia' ri wenniE
Manessa iko mua
Uwakkang matinro

Kubermimpi di malam hari
Jelas dikaulah jua
Kupangku dalam tidurku

Matinroku mannippikku
Iyami kuponippi
Ikomi kuwita

Saat kuterlelap, pastilah kubermimpi
Tiada lain yang hadir dalam mimpiku
Engkaulah yang kulihat

Upappadako cammingngE
Utimpa' baja-baja
Tekkubokorimmu

kau bagaikan cermin bagiku
Kuhadapkan wajahku dipermukaanmu tiap waktu
Takkan mungkin kumembelakangimu

Sangadi matE watangnga'
Mareppa' bulo-bulo
Kupaja massEnge'

Kecuali andai kumati terpaksa
Pecah bagai buluh
Maka usailah rinduku

Sangadi duai mEnrE'
Matanna tikkaa'EdE
Usala pangolo

Kecuali jika terbitlah dua
Sang matahari
Barulah mungkin aku keliru berpaling

MatEka' ala duwaE
Kutaro ri babuwa
Tenna iko mua

Aku mati andai ada duanya
Kusimpan dalam perutku
pastilah dikau jua

Akkitako ri kEtengngEdE
Alilii alibunna
Atikku ri lalengna

Pandanglah ke bulan diatas sana
Perhatikan lingkaran bulatnya
Hatiku ada didalamnya

Ana' uleng muita
Macoora puppuu benni
Padai nyawaku'

Lihatlah bintang
Berkilauan sepanjang malam
Seperti itulah jiwaku

Akkitako ri salo'E
Maccolo' baja-baja
Atikku ri lalengna

Pandanglah sungai
Airnya mengalir sepanjang waktu
Seperti itulah hatiku

Maggulilingna' palElE winru
Naikomua utuju
Nawa-nawakku

Dari segala penjuru kumencoba mengalihkan kasih
Namun dikau jua
Yang ada dalam benakku

Dua tellu kerraiko
Inge'mu na matammu
Taro simpolongmu

dua tiga hal membuatmu mempesona
Hidung dan matamu
Serta model sanggulmu

Iyasia minasakku
Alebbongpa malai
Assimellerengta

Tiada lain harapanku
Semoga liang lahadlah yang memisahkan
Cinta kasih kita

PEsona temma'gangkaku
Iyapa nakkEwiring
Kame'pi linoE

Keyakinanku tak terbatas
Nantilah kiranya berakhir
Jika dunia kiamat adanya

UpomEnasai sia
Silise' kasa renni'
Pawalung tadua

Kuberharap
Secarik kain kasa
Menjadi kain kafan kita berdua

UpomEnasai sia
Sitonra-tonra jari
LEtE ri Manipi

Kuberharap
Kita bergandeng tangan
Meniti akhirat

IkoarE idi' arE
LEtE ri Manipi 
Sitajengngi ri majEE'

Engkau atau aku
Lebih dulu menuju akhirat
Kita saling menunggu di surga

Ri majEE'pi mabbiccara
Ri TualenrEng pasi
Tomappasilolongeng

Di alam kuburlah nanti kita saling menyapa
Nantilah lagi di perbatasan negeri akhirat
Kita kan saling berkisah

Tessitajenggi' ri MajEE'
Kuwapi ri Manipii'
Sita baja-baja

Andai kita tak saling menunggu di alam kubur
Nantilah setelah di negeri akhirat
Kita dipertemukan selamanya

SEKILAS SEJARAH SINJAI

Kabupaten Sinjai berdasarkan penelusuran sejarah, dimulai dari pemukiman pertama di Wawo Bulu Manipi Kecamatan Sinjai Barat di sebelah timur Malino dipimpin oleh orang yang digelar Puatta Timpae’ Tana atau To Pasaja yaitu Arung Manurung Tanralili.
Keturunan Arung Tanralili, salah seorang diantaranya adalah wanita yang kemudian puteri Tanralili inilah yang mengembangkan wilayah Wawo Bulumenjadi Kerajaan Turungeng.
Raja wanita tersebut diperisterikan oleh putera Raja Tallo yang kemudian salah seorang turunannya adalah wanita kawin dengan salah seeorang putera Raja Bone. Dari hasil perkawinan itulah yang kemudian melahirkan enam orang putera dan satu orang puteri. Akan tetapi puterinyalah yang menggantikan ibunya menduduki tahta kerajaan di Turungeng. Adapun keenam puteranya ditebarkan ke wilayah lain sehingga ada yang bermukim di Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, Bala Suka dan masing-masing berusaha membentuk wilayah kekuasaan.
Dari keturunan Puatta Timpae’ Tanaatau To Pasaja inilah yang berhasil membentuk kerajaan dalam wilayah dekat pantai yang dikenal dengan kerajaan Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti.
Untuk memelihara hubungan dan keutuhan wilayah kerajaan yang bersumber dari satu keturunan, maka muncullah gagasan dari I Topacebba (anak dari La Padenring)  yang digelar Lamassiajingeng(Raja Lamatti ke-X) berupaya mempererat hubungan Lamatti dengan Bulo-Bulo atas dasar semboyan “PASIJAI SINGKERUNNA LAMATTI BULO-BULO  artinya satukan keyakinan / kekuatan Lamatti dengan Bulo-Bulo.
Penggagas dalam memelihara persatuan Lamatti dan Bulo-Bulo saat meninggalnya digelar  “PUATTA MATINROE’ RISIJAINNA.

Sinjai dalam ungkapan bahasa Bugisbermakna satu jahitanSinjai artinyabersatu dalam jahitan. Dari istilah sijaimenjadi sinjai, merupakan suatu simbol dalam mempererat hubungan kekeluargaan, menurut bahasa Bugis.

Dari pertumbuhan dan perkembangan kerajaan yang ada, muncul pemikiran baru tentang perlunya memperkuat persatuan dan kesatuan dalam memelihara dan melindungi kerajaan yang ada, maka dibentuklah kelompok gabungan kerajaan yang berbentuk federasi yang dikenal dengan :

1.      TELLU LIMPOE’, merupakan persekutuan kerajaan yang berdekatan dengan pantai, yaitu Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti.

2.      PITU LIMPOE’, merupakan persekutuan kerajaan yang berlokasi di daerah dataran tinggi , yaitu kerajaan Turungeng, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, Balasuka.

Federasi kerajaan Tellu Limpoe’ danPitu Limpoe’ merupakan dua kekuatan yang akan membendung arus ekspansi dari barat dan selatan, juga merupakan kekuatan pertahanan untuk membendung arus ekspansi dari utara dan penyelamatan garis pantai.

Secara geografis, wilayah Sinjaimenempati posisi strategis karena berada pada kawasan pantai dan pegunungan yang merupakan lintas batas kerajaan Gowa dan Bone.

Antara kerajaan Gowa dan Bonesenantiasa bersaing dalam merebut pengaruh terhadap kerajaan tetangga sehingga wilayah Sinjai merupakan wilayah yang diincer oleh kedua kerajaan tersebut.

            Untuk mempertahankan wilayah garis pantai, raja-raja Tellu Limpoe’  (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo)bersepakat mendirikan benteng pertahanan di Balangnipa pada tahun 1557 dan diberi nama benteng Tellu Limpoe’ atau Benteng Balangnipa.

            Melihat kondisi perkembanagan gerakan kedua kerajaan tersebut (Gowa dan Bone), maka kerajaan-kerajaan kecil yang dalam wilayah Sinjai menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang berstatus federasi yang terbentuk menjadi dua kekuatan yang tidak dapat dipisahkan dalam membendung pengaruh dari dua kerajaan besar.

            Upaya pembentukan dua kekuatan pertahanan, yaitu Pitu Limpoe’ dan Tellu Limpoe’ mengadakan kesepakatan untuk mempertahankan wilayahnya daripengaruh ekspansi Gowa dan Bone.

            Oleh karena raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai merasa dirinya sebagai satu sumber keturunan sehingga kedua kekuatan tersebut  (Pitu Limpoe’ dan Tellu Limpoe’) menempuh jalan yang arif dengan bersikap netral menghadapi kedua kerajaan tersebut. Sikap netral itulah sehingga menjadikan dirinya sebagai mediator untuk melakukan perdamaian antara Gowa dan Bone. Untuk itu maka  Tellu Limpoe’ maupun Pitu Limpoe’  tidak melakukan pemihakan dalam menghadapi kedua kerajaan tersebut sehingga berhasil mempertemukan kedua kerajaan yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Dengan demikian maka digagaslah suatu perundingan untuk perdamaian sehingga pada bulan Februari 1564 Raja Bulo-Bulo ke-VI La Mappasoko Lao Manoe’ Tanru’naberhasil mempertemukan kedua kerajaan yang bertikai.

            Dalam perundingan, kerajaan  Gowadiwakili oleh I MANGERAI DAENG MAMETTA dan kerajaan Bone diwakili olehLATENRI RAWE BAONGKANGE yang disaksikan oleh raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai, yaitu Raja La Padenring (Raja Lamatti ke-VIII (bergelar Arung Mapali’e, suami I Daommo alias Mabbissuneng Eppa’e Arung Bulo-Bulo),  Iyottong Daeng Marumpa Raja Tondong, dan La Mappasoko Lao Manoe’ Tanrunna mewakili Raja Bulo-Bulo.

            Pertemuan antara Raja Bone dan Raja Gowa diadakan di Topekkong Kalaka Sinjai kira-kira 3 km dari pusat kota Sinjai (Balangnipa) dan berhasil melahirkan kesepakatan yang dikenal denganPERJANJIAN TOPEKKONG yang ditandai dengan LAMUNG PATUE’ RI TOPEKKONG (Penanaman batu besar).

           Lamung Patue’ merupakan simbol, bahwa bagian batu yang tertanam dimaksudkan sebagai simbol penguburan sikap keras yang dapat merugikan semua pihak. Batu yang muncul dipermukaan tanah, merupakan simbol persatuan yang tak tergoyahkan.

Perjanjian Topekkong

MADDUMME TO SIPALALO

saling mengizinkan mencari tempat bernaung

MABBELLE TO SIPASORO

saling memberi keuntungan dalam menangkap ikan

SEDDI PABBANUA PADA RIAPPUNNAI

satu penduduk kita miliki bersama

LEMPA ASEPA MAPPANNESSA

pikulan padi yang menentukan, kemanapadinya dibawa disitulah pilihannya

MUSUNNA GOWA MUSUNNA TO BONE NA TELLU LIMPOE’, MAKKUTOPI

ASSIBALINNA

musuh Gowa, juga musuh Bone dan Tellu Limpoe’, begitu pula sebaliknya

SISAPPARENG DECENG, TENG SISAPPARENG JA

saling mencari kebaikan, tidak saling mencari kejelekan (kekurangan)

SIRUI MENRE TE SIRUI NO

saling menaikkan, tidak saling menjatuhkan (menurunkan)

MALILU SIPAKAINGE, MALI SIPARAPPE

saling mengingatkan, salingmenyelematkan

Oleh karena raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai konsisten terhadapperjanjian Topekkong sehingga pada saatorang Belanda mendatangi dan membujukkerajaan Bulo-Bulo  untuk memerangikerajaan Gowa sebagai upaya untuk memecah belah kerajaan yang ada di wilayah Sulawesi Selatan sehingga puncak upaya Belanda untuk memecah belah terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Belanda pada 29 Februari 1636 M. / 22 Ramadhan 1057 H.

Pada tahun 1824 Gubernur Jenderal Van Der Capellen datang dari Batavia membujuk I Cella Arung Bulo-Bulo XXIuntuk menerima perjanjian Bongaya, dan mengizinkan Belanda mendirikan loji ( Kantor Perdagangan) di Lappa. Tetapi dengan tegas ditolak, sehingga pada saat itu orang Belanda mengadakan penyerangan di bawah pimpinan Van Der Capellen, sedangkan pasukan kerajaan Tellu Limpoe’dipimpin oleh La Mandasini (Puatta Mapute Isinna) sebagai Dulung (Panglima) Tellu Limpoe’dan Baso Kalaka yang berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Ketika itu I Mappajaji alias I May Dg. Sisila anak dari I Mappakana arung Bulo-Bulo sebagaiArung Lamatti ke-30.

            Pada tahun 1859 pasukan Belanda kembali mengadakan serangan besar-besaran melalui laut dan darat yang dipimpin oleh Jenderal Van Swiaten. Oleh karena kekuatan tidak berimbang akhirnyaSinjai direbut oleh Belanda . Dengan demikian maka pada 15 Nopember 1861 Gubernur Sulawesi menetapkan daerah taklukannya Tellu Limpoe’ dijadikan wilayah pemerintahan dengan sebutanGester Districten. Oleh karena pasukan Belanda telah menaklukkan kerajaan Tellu Limpoe’ maka Belanda berusaha mengadakan pemugaran benteng Tellu Limpoe’ pada tahun 1864 - 1868 kemudian dijadikan markas pertahanan, sekaligus sebagai tempat tahanan (bekasnya sudah tidak ada) dikenal dengan kandang macan.

             Oleh karena Balangnipa pernah dilanda banjir sehingga benteng Balangnipa kemasukan air, maka Belanda berusaha memindahkan tahanan di Balobboro dalam bentuk kandang macan beberapa buah yang tidak beratap. Adapun bekas tahanan di balobboro penulis masih dapat melihat sekitar tahun 1969, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi, bahkan sudah menjadi pemukiman penduduk.

Jadi untuk membuktikan kekejaman kolonial terhadap pribumi sudah mengalami kesulitan karena bukti yang menjadi saksi sejarah sudah tiada.

Pada 24 Februari 1940 Gubernur Grote Gost menetapkan pembagian wilayah administrasi untuk daerah timur besar termasuk Residensi Celebes di mana daerah Sinjai bersama dengan beberapa daerah lainnya berstatus Onther Afdelingdalam wilayah Afdeling Bonthain. Sedangkan Onther Afdeling  Sinjai dibagi atas beberapa Adats Gemencap, yaitu :Cost Bulo-Bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Manipi dan Turungeng.

             Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan ditata kembali sesuai kebutuhan bala tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.

             Perjuangan pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan semakin tinggi sehingga pemuda-pemuda membentuk organisasi SUDARA (Sumber Darah Rakyat) yang disponsori oleh Abd. Razak SimarajaleloKRIS MUDA (Kebaktian Rakyat Islam Muda) dan lain-lain.

            Oleh karena  posisi Sinjai merupakan daerah yang strategis dan ditopang oleh semangat juang yang tinggi sehingga sebagian pemuda yang akan ikut berjuang di Jawa menjadikan daerah pantai Sinjaisebagai tempat transit ke Jawa, demikian pula yang berasal dari Jawa.

            Kondisi masyarakat Sinjai sangat antusias menyambut dan mempertahankan kemerdekaan sehingga para pejuang tidak henti-hentinya mengadakan konsolidasi dan koordinasi untuk mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh M. Syurkati Said, M. Yahya Mathan, M. Sultan Isma, M. Dahlan Isma, A. M. Saleh, Abdul Hai, M. Sattar, Mukmin dan lain-lain yang mendapat dukungan rakyat Sinjai, kecuali yang merasa ada hubungan denganBelanda.

Kemerdekaan Negara Indonesia diproklamirkan dalam sebuah Proklamasi pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta. Atas dasar itu maka berakhirlah kekuasaan Jepang di Indonesia dan menyerahkan kedaulatan itu kepada bangsa Indonesia untuk mengatur pemerintahannya sehingga sturktur pemerintahan di Sinjai masih tetap berada di bawah Daerah Swatantra Tingkat II Bonthain yang membawahi Bonthain sendiri, Sinjai, Bulukumba, dan Selayar dengan status Kewedanaan.

          Pemerintah Jepang di Makassar mengirim Abd. Razak Simarajalelo (orang Sumatera) ke Sinjai (seorang pejuang yang berada di Makassar) untuk menerima penyerahan pemerintahan di Sinjai. Setelah itu, Abd. Razak  Simarajalelo melanjutkan penyerahan.  Pemerintahan di Sinjaikepada H. A. Mappatoba (Arung Bulo-Bulo Timur) maka resmilah Pemerintahan diSinjai dipegang oleh bangsa Indonesia pada 19 Agustus 1945.

H. A. Mappatoba menjadi Kepala Pemerintahan R. I. (KPRI) Dalam bentuk Kewedanaan Di Sinjai dengan membawahi  Distrik Lamatti, Bikeru, Manimpahoi, dan Manipi.       

            Dalam perjalanan pemerintahan KPRI terjadi perubahan istilah pemerintahan menjadi Kepala Pemerintahan Negeri (KPN), pada masa ini pemerintahan dipegang oleh Abd. Razak Dg. Patunru (orang Bulukumba), kemudian beralih kepada Ahmad Marsuki Dg. Marala (Ayah Laica Marsuki SH.). Selanjutnya pemerintahan beralih kepadaPuatta Indar (Sinjai), kemudian beralih kepada Laode Hibali (orang Buton) pada tahun 1955. Selanjutnya kepala pemerintahan beralih kepada A. Attas (orang Bone), kemudian pindah kepada A. Jamuddin ( orang Bone), kemudian pindah kepada Bustan (Mantan Kepala Daerah Wajo). Pada saat ini berakhirlah istilah Kewedanaan dan Distrik diubah menjadiDaerah Swatantra Tingkat II Sinjai (Daswati II Sinjai), dan Distrik diubah menjadi Kecamatan sehingga Kepala Pemerintahan menjadi Kepala Daerah danCamat pada tahun 1959. Dari Daswati diubah lagi menjadi Dati II Kabupaten Sinjai dan kepala pemerintahannya bergelar Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Sinjai.  Istilah Dati II Kabupaten Sinjai berubah menjadi Kabupaten Sinjaidan kepala pemerintahannya bergelarBupati Sinjai.

             Perubahan sistem pemerintahan tersebut terjadi karena berdasarkan UURI. No. 29 Tahun 1959 yang mengatur pemerintahan dan pemekaran serta pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II.  Atas dasar UURI tersebut Sinjaiditingkatkan statusnya dari Kewedanaan di bawah naungan Bonthain sehingga pada 29 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi Daerah SwatantraTingkat II Sinjai yang dipimpin oleh Mayor A. Abd. Latief sebagai Kepala Daerah yang pertama dan dilantik pada 27 Februari 1960.  Jadi secara dejure Sinjaibaru memasuki umur 46 tahun.

           Setelah perang mempertahankan kemerdekaan usai, maka kekuasaan berada di tangan bangsa Indonesia masih dalam suasana transisi.  Untuk itu,  struktur pemerintahan yang ada masih tetap dipertahankan sehingga pemerintahanSinjai yang berstatus Kewedanaan dan berada dalam naungan Daerah Swatantra Bonthain seperti halnya Bonthain sendiri,Bukukumba dan Selayar.

          Oleh karena Sinjai berada di bawahpemerintahan Daerah Swantantra Bonthainmaka yang mewakili Kewedanaan Sinjaisebagai anggota DPR ialah St. Marwah Sulaiman dan M. Syurkati Said, dan A. Muh. Saleh. Konon wakil dari kewedanaanSinjai cukup berpengaruh, karena St. Marwah Sulaiman dalam sejarahnya pernah membubarkan rapat DPR Bonthain karena terjadi perbedaan prinsip.

Sabtu, 20 Agustus 2016

SEKAPUR SIRIH SELINTING TEMBAKAU

Bagi anda yang gemar membaca buku pasti pernah melihat pada halaman - halaman awal sebuah buku ada tertulis dalam bentuk judul, SEKAPUR SIRIH. Istilah ini diadopsi dari tradisi nusantara yang khususnya dipraktekkan oleh suku - suku Bugis dan Melayu sejak berabad - abad yang lalu.
Dimasa lalu suku-suku Bugis dan Melayu sangat kental dengan tradisi " Mangngota" yaitu mengunyah kapur sirih ( sering ditambahkan pinang) tanpa menelannya. Hal seperti ini sampai sekarang masih dilakukan oleh hampir semua suku- suku di Papua. Tradisi ini dipercaya untuk menguatkan gigi dan membersihkan gusi dan rongga mulut dari berbagai macam kuman.
Lepas dari manfaat yang dipercayai dalam tradisi mengunyah kapur sirih + pinang, saya secara khusus akan menyoroti tradisi ini dalam fungsinya sebagai perekat hubungan antar individu dalam masyarakat dan simbol penghormatan dalam interaksi sosial.
Tradisi ini memiliki posisi ekslusif khususnya bagi masyarakat suku Melayau dan Bugis di masa lalu sehingga hampir semua bentuk interaksi sosial dianggap "Tidak Sahih" tanpa adanya sekapur sirih terlebih untuk acara - acara penting atau sakral semisal perkawinan, acara - acara adat, musyawarah warga bahkan untuk memulai perang atau pertarungan mempertaruhkan harga diri.
Tradisi yang dianggap wajib ini mengandung nilai - nilai kearifan lokal yang fungsinya semacam "Tuma'ninah" yang disyaratkan diantara setiap sikap/posisi dalam shalat.
Memulai sebuah urusan yang terkait dengan orang lain, bahkan musuh sekalipun, adalah wajib menghormatinya dengan mendahulukan menawarkan pinang sirih sebelum memulai urusan yang menjadi tujuan utama. Pada saat mengunyah pinang sirih inilah digunakan untuk menjernihkan hati dan pikiran agar apapun yang menjadi akhir dari urusan nanti hendaknya menjadi pilihan yang benar-benar disadari dan dipertanggung jawabkan.
Seiring zaman, tradisi "Mangngota" tergantikan dengan tradisi "Merokok" dengan tembakau lintingan yang tetap mengacu pada fungsi sosial yang sama.
Ini adalah tradisi yang tumbuh di tengah - tengah masyarakat sebagai perekat hubungan sosial yang terbukti efektif untuk tujuan yang dimaksud.
Sampai sekarang masih ditemukan tradisi membawa rokok dengan wadah baki ( bossara') sebagai "Surat Undangan" kepada para pamong, tokoh-tokoh masyarakat atau kerabat yang dituakan ketika kedatangan mereka diperlukan untuk hadir di pesta - pesta rakyat. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan simbol kedekatan hubungan sosial. Dalam hal ini, bentuk undangan lain akan dianggap sebagai sebuah pelecehan dan sikap tidak hormat yang sekaligus akan menjadi aib bagi pihak pengundang.
Di tengah pergaulan masyarakat umum, rokok menjadi " Benda Keramat" yang memiliki keampuhan menjembatani sebuah hubungan sosial dan memiliki keajaiban untuk menyingkirkan keraguan dan sikap grogi untuk memulai sebuah perkenalan dengan orang asing. Rokok selalu ditawarkan bahkan meski kepada seseorang yang bukan perokok. Karena pada dasarnya ini hanya semacam ritual  penawaran dan sikap membuka diri bagi orang lain.
Selain itu, tradisi merokok ini juga menjembatani usaha untuk saling berbagi rezeki tanpa menimbulkan ketersinggungan pada pihak penerima.Dalam tradisi masyarakat khususnya bagi suku Melayu dan Bugis menerima sesuatu dalam bentuk belas kasihan dianggap menciderai harga diri seseorang. Dan hal itu akan menyakitkan. Di sinilah tradisi merokok menjadi penengah. Biasanya pihak pemberi akan menggunakan kalimat, " Sekedar pembeli rokok." Ini hanya sebuah kalimat sederhana tetapi sanggup menyelamatkan hati seseorang dari ketersinggungan dan luka harga diri.
Gencarnya kampanye anti rokok dengan dukungan berbagai regulasi belakangan ini menimbulkan perubahan paradigma dan mulai mengubur tradisi merokok.
Mungkin benar bahwa tradisi merokok tidaklah menyehatkan. Tetapi bukankah semua hal di dunia ini memiliki sisi gelap dan terang ? Bukankah setiap orang waras memiliki sisi kegilaan ?  Bahkan jika seseorang benar - benar sehat, maka " Cukuplah sehatmu itu sebagai sakitmu" , demikian dikatakan Muhammad al-Musthafa sang kekasih Tuhan.

KENAPA JIKA BERBEDA

Di kelasnya ada 25 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23.
Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.
Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing.
Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun bertepuk tangan.
Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya.
Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:

"Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main".

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab :

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.
Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?
Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti.
Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.
Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka.
Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya.
Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.
Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan.
Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue.
Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil.
Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.
Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti.
Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan.
Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.
Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23.
Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu :

" Siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan apa alasannya ?"
Semua teman sekelasnya menuliskan nama : " Anakku "

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi.
Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.
Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”.
Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab :
“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”
.
" Ibu,  aku tidak mau jadi pahlawan.  Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di pinggir jalan "
Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku.
Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.
Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya,  ____ mengapa anak - anak kita tidak boleh menjadi orang biasa yang berhati baik dan jujur ?

Rabu, 17 Agustus 2016

WARTAWAN YANG PAHLAWAN

Jika saat ini kita bisa melihat foto Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi maka sudah patutnya kita berterima kasih pada sosok kakak beradik, Alex Mendur dan Frans Mendur. Berkat dua orang bersaudara itu, hingga saat ini saksi bisu hari paling penting untuk bangsa ini bisa kita lihat.
Padahal tak ada instruksi untuk keduanya mengambil foto saat teks Proklamasi dibacakan. Frans Mendur hanya tak sengaja mendengar kabar dari harian Asia Raya. Pun kakaknya, Alex Mendur yang berprofesi sebagai fotgrafer kantor berita Jepang waktu itu.
Keduanya langsung bergegas ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Cikini, Jakarta dengan membawa kamera masing-masing. Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat di lokasi tepat pukul 05.00 pagi. Rupanya hanya mereka berdua, fotografer yang hadir di hari paling penting bagi bangsa Indonesia itu.
Alex dan Frans berhasil mengabadikan beberapa foto detik-detik proklamasi Indonesia. Namun usai upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex ditangkap, kameranya disita, hasil fotonya dibakar. Sementara Frans berkilah, ia mengaku negatif filmnya telah dirampas Barisan Pelopor padahal telah dikubur dalam tanah. Tentara Jepang pun berhasil ia kelabuhi.
Setelah dirasa aman, keduanya lalu menggali tanah tempat negatif film dikubur. Tak menunggu lama, film itu kemudian dicetak. Butuh keberanian dan mental baja. Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar hingga akhirnya menemukan lab foto. Sebab jika tertangkap Jepang, bukan tak mungkin Mendur bersaudara dihukum mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.
Mendur bersaudara lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir pada 1907, sementara adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Kala itu nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing.
Untuk mengenang aksi heroik Mendur bersaudara, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut "Tugu Pers Mendur". Tugu ini berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu.
Tugu Pers Mendur didirikan di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, di tanah kelahiran mereka. Di dalam rumah itu terdapat 113 foto karya Mendur bersaudara yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013.

INSPIRASI DARI BAWAH POHON SUKUN


Tiga hari sudah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) berlangsung. Tokoh-tokoh terkemuka dari seluruh kepulauan di Indonesia masih kukuh pada pendirian masing-masing tentang prinsip dasar dari Indonesia Merdeka.

Satu kelompok menginginkan membentuk negara Indonesia berdasarkan Islam, sementara kelompok lainnya menginginkan wilayah negara yang luas. Ada juga kelompok yang berpandangan Indonesia belum matang untuk memerintah diri sendiri.

Sukarno yang memilih tokoh-tokoh itu untuk mengikuti sidang BPUPKI di Gedung Volksraad Jalan Pejambon, Jakarta, duduk di tengah-tengah sidang mendengarkan segala keributan dan membiarkan kelompok-kelompok itu mengeluarkan pendapatnya.

"Bulu kudukku berdiri ketika mendengarkan setiap orang menguraikan rencana yang mencakup hal-hal paling kecil. Mereka terlalu banyak biacara 'seandainya' dan menduga-duga," ucap Sukarno menggambarkan suasana sidang dalam bukunya Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sukarno gemas sekaligus khawatir dengan percekcokan yang tak ada ujung itu. Ia khawatir kondisi ini akan membuat kemerdekaan Indonesia malah tidak akan pernah terwujud. 

Dalam benaknya, muncul kembali prinsip-prinsip dasar negara yang pernah dipikirkannya sejak 16 tahun sebelumnya, saat ia mendekam di gelapnya Penjara Banceuy, Bandung.

Ia juga teringat buah pikirannya saat diasingkan di Pulau Flores, NTT. Di pulau yang sepi dan tanpa kawan itu, Sukarno duduk di bawah pohon sukun di depan rumahnya, dan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat itu merenungkan ilham yang diturunkan Tuhan kepadanya tentang dasar negara yang tepat untuk Indonesia merdeka.

Bagi Sukarno, dasar negara yang tepat bagi Indonesia adalah prinsip-prinsip yang berasal dari tradisi Indonesia, bukan pada Deklarasi Kemerdekaan Amerika ataupun pada Manifesto Komunis. Juga bukan dari pandangan hidup bangsa lain.

Maka Sukarno pun bersiap menyampaikan buah pikirannya ini pada sidang keesokan harinya, 1 Juni 1945. Namun pada malam harinya, dia menyepi. Sukarno keluar rumah dan menatap bintang-bintang di langit.

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams, Sukarno mengaku begitu kagum melihat ciptaan Tuhan itu. Bersama rasa kagumnya ia meratap dalam hati, "Aku tahu, pemikiran yang akan kusampaikan bukanlah milikku. Engkaulah yang membukakannya kepadaku. Hanya Engkaulah yang Maha Pencipta, Engkaulah yang selalu memberi petunjuk pada setiap napas hidupku. Ya Allah, berikan kembali petunjuk serta ilham-Mu kepadaku."

Pukul 09.00 pagi, sidang BPUPKI dibuka kembali pada 1 Juni 1945. Sukarno melangkah ke podium marmer yang letaknya lebih tinggi. Tanpa memegang naskah pidato, Sukarno mengupas lima prinsip, yang disebutnya lima mutiara berharga, yakni Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di pengujung pidatonya Sukarno berkata, "Marilah kita menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi biarkan masing-masing orang Indonesia bertuhan Tuhannya sendiri..."

Sukarno pun kemudian menyebut lima mutiara berharga itu sebagai Pancasila. Lima prinsip yang menjadi dasar negara, seperti Rukun Islam yang juga lima, jari di satu tangan yang juga lima, dan pahlawan Mahabarata yang juga berjumlah lima orang.

Mendengar pidato ini, serentak semua anggota BPUPKI dari pihak Indonesia bertepuk tangan bergemuruh. Mereka berdiri dari kursi masing-masing dan menerima falsafah negara Pancasila yang disodorkan Sukarno secara aklamasi.

Kamis, 04 Agustus 2016

PENYAKIT DALAM TUBUH MANUSIA

Riset tentang penyakit dalam tubuh manusia :
Bahwa sel-sel kanker paling takut dengan CINTA.

Profesor 霍金斯 mengatakan: Kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati kasih dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

大微霍金斯 mendapati bahwa  sebagian orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang DI ATAS 200 maka dia tidak akan sakit

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu suka mengeluh, suka menyalahkan orang lain, dendam pada orang. Kalau pikiran ini yang menguasai pikirannya berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja.  Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200. Orang- orang seperti itu SANGAT MUDAH  mengidap berbagai jenis penyakit.

Profesor 霍金斯 telah melakukan puluhan ribu riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu: asal getaran frekuensinya berada DI BAWAH *Penemuan Menggemparkan Manusia di Amerika:*

Menyatakan bahwa sel-sel kanker paling takut dengan CINTA.
Penelitian menemukan bhw org sakit karena tidak punya cinta kasih...!

Profesor Amerika  霍金斯 yg adalah seorang dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. Begitu melihat seseorang, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena dari tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun "kasih/ rahmah" dalam dirinya..., Hanya ada penderitaan, keluhan dan deraian air mata yang membungkus seluruh tubuhnya.

Profesor 霍金斯 mengatakan: Kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati kasih dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

大微霍金斯 mendapati bahwa  sebagian orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang DI ATAS 200 maka dia tidak akan sakit (red: in syaa Allah).

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu suka mengeluh, suka menyalahkan orang lain, dendam pada orang. Kalau pikiran ini yang menguasai pikirannya berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja.  Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200. Orang- orang seperti itu SANGAT MUDAH  mengidap berbagai jenis penyakit.

Frekuensi paling tinggi berada di angka 1000 dan yang paling rendah berada di angka 1. Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat yang mempunyai frekuensi positif di atas 700 maka kekebalannya/ kemampuannya sangat cukup. Jika orang-orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu.

Pada saat orang yang memiliki getaran HAWA positif tampil di suatu tempat maka dia akan menggerakkan semua orang dan makhluk yang ada di tempat itu menjadi nyaman dan merasa damai (red: Rahmatan lil Alamin).

Namun pada saat orang  memiliki pikiran  negatif muncul di suatu tempat bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan ATMOSFIR/ HAWA POSITIF di tempat tersebut memburuk.

Profesor 霍金斯 telah melakukan puluhan ribu riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu: asal getaran frekuensinya berada DI BAWAH  200 maka orang itu SEDANG SAKIT. Tapi jika berada DI ATAS 200 maka orang itu TIDAK SAKIT. 

Yang di atas 200: apa saja yg  didasari dengan hati Welas Asih (red: Qalbun Salim), cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois, dalam semua hal hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain,  orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang PALING RENDAH. Hal itu yg dpt menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya. dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah adalah virus yang merusak tubuh.

Apa saja yg  didasari dengan hati Welas Asih, cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois, dalam semua hal hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain,  orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang PALING RENDAH. Hal itu yg dpt menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya.

Dia memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

Kekuatan Cinta

Seorang seniman biola setelah mengidap penyakit kanker dia berjuang melawan penyakitnya namun dia merasakan semakin hari semakin memburuk lalu dia memperbaiki konsep pikirannya dengan mencintai semua sel kanker yang ada dalam dirinya sendiri, dia melihat sel kanker yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelayanan pada dirinya dan ia berterima kasih padanya dan dia merasakan perasaannya lebih nyaman.

Selanjutnya dia memutuskan menjalani dengan Cinta untuk menghadapi dan semua masalah yang dihadapinya dia memutuskan untuk melayani setiap orang dan dirinya sendiri dengan cinta.

Setelah beberapa waktu berlalu di luar dugaan, semua sel-sel kanker dalam dirinya menjadi hilang. Terakhir dia menjadi seorang ahli therapy  di Jepang. Dia mendapati dasar dari semua kehidupan adalah Cinta dan kasih sayang. Pada saat seseorang telah bisa hidup dengan cinta, maka dia bisa mendapatkan kedamaian dan kesehatan secara fisik dan batin.